Kreatininmerupakan hasil akhir pemecahan kreatin fosfat otot yang di produksi hati disimpan dalam otot rangka dan darah.Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar kreatinin pada penderita diabetes mellitus tipe II di Rumah Sakit Bhayangkara Kota Palembang Tahun 2021.Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan Hasilpenelitian menunjukkan dari 64 penderita diabetes melitus tipe II, sebanyak 25 orang (39.1%) dengan hasil kadar kreatinin tinggi, sebanyak 33 orang (51.6%) dengan hasil kadar kreatinin normal dan sebanyak 6 orang (9.4%) dengan hasil kadar kreatinin rendah. Mengetahuirerata kadar kreatinin serum pada penderita diabetes melitus tipe-2 di Rumah Sakit Umum Daerah H. Abdul Moeloek Bandar Lampung b. 987-95. Alfarisi S, Basuki W, Susantiningsih T. (2013). Perbedaan kadar kreatinin serum pasien diabetes melitus tipe-2 yang terkontrol dengan yang tidak terkontrol di RSUD dr. H. Abdul Moeloek bandar Diabetesmellitus (DM) is a metabolic diseases characterized with hyperglycemia which is occurs due to abnormalities insulin secretion, insulin performance or both of them. The condition of hyperglycemia can cause chronic complication such as diabetic nephropathy. Kidney's hypofunction on diabetic nephropathy can cause an increased level of uric acid (hyperuricemia) because connected with Tujuan: Mengetahui hubungan antara kadar HbA1c dengan kadar kreatinin pada penderita Diabetes Melitus Tipe 2. Metode : Penelitian ini adalah observasional eksperimen dengan menggunakan pendekatan cross sectional berdasarkan data sekunder . Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari hingga April 2020. korelasikadar glukosa, kreatinin, dan kalium pada penderita diabetes nefropati Diabetic nephropathy was complications of diabetic mellitus that role in the emergence of glomerulosklerosis and can be ended as kidney failure characterized by elevated levels of creatinin so that an impact in disorders of electrolytes including the levels of meningkat sedangkan pasien dengan kadar trigliserida normal memiliki kadar kreatinin normal. Hasil uji statistik dengan metode Mann Whitney menunjukan p<0,001. Simpulan penelitian, terdapat hubungan yang bermakna antara hipertrigliseridemia dengan kadar kreatinin. Kata kunci: Diabetes melitus tipe 2, hipertrigliseridemia, kadar kreatinin Sampelpenelitian menggunakan teknik sampling accidental sampling. Sampel penelitian adalah penderita Diabetes mellitus di Rumah Sakit Bhayangkara Palembang Tahun 2017 yaitu berjumlah 66 penderita. Pengukuran kadar kreatinin menggunakan alat Clinical Chemistry Analyzer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 66 penderita, ditemukan sebanyak 17 orang (25,8%) dengan kadar kreatinin tinggi dan 49 orang (74,2%) dengan kadar kreatinin normal. Sampelyang digunakan adalah hanya pasien diabetes melitus tipe 2 yang berjenis kelamin laki-laki. Pada kelompok DM tipe 2 yang terkontrol, terdapat 34 orang (94,4%) sampel yang kadar kreatinin serumnya berada pada kisaran normal, sedangkan 2 orang (5,6%) sampel kadar kreatinin serumnya berada diatas kisaran normal. Pada HasilPenelitian: Didapatkan sampel penelitian berjumlah 201 penderita DM tipe 2 dengan rata-rata kadar gula darah sewaktu (GDS) didapatkan sebesar 227.08 dalam penilaian standar deviasinya ialah 69.84 dengan kadar gula darah sewaktu (GDS) terendahnya ialah 120 dan yang tertingginya ialah 392. dan rata-rata kadar kreatinin serum penderita DM tipe 2 dari 201 responden didapatkan sebesar 1.42 dalam penilaian standar deviasinya ialah 0.43 dengan kadar kreatinin serum terendahnya ialah 0.60 dan Thoserenal function disorders were measured by Glomerular Filtration Rate (GFR), in which the decrease in GFR is followed by the increase in levels of blood urea and creatinine.Objectives: Demonstrate the relationship between dyslipidemia with the level of blood urea and creatinine in patients with Diabetic Nephropathy.Methods: The sort of this study is observational analytic with cross sectional approach. GAMBARANKADAR KREATININ PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE 2 DENGAN RIWAYAT PENYAKIT LEBIH DARI 5 TAHUN DI PUSKESMAS KOTA WILAYAH UTARA KEDIRI (0%) sedangkan pada wanita 2 orang (7%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah kadar kreatinin pada penderita DM tipe 2 dengan riwayat penyakit lebih dari 5 tahun menunjukkan kadar kreatinin KadarCystatin-C Serum pada Penderita Diabetes Melitus Tanpa Proteinuria dengan Kadar Kreatinin Normal (dibimbing oleh Uleng Bahrun dan Tenri Esa). Diabetes melitus (DM) adalah penyakit yang dapat menyebabkan kerusakan dan disfungsi berbagai jaringan serta berbagai organ seperti ginjal. Penelitiandilakukan di poli penyakit dalam Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta, pada penderita Diabetes Melitus tipe 2 rawat jalan. Besarnya penderita DM rawat jalan di poliklinik RS PKU Muhammadiyah Surakarta yaitu pada awal tahun 2013 bulan Januari sampai bulan Oktober terdapat 600 penderita dan mengalami peningkatan dari bulan Oktober sampai bulan November sebanyak 871 penderita. PerbedaanKadar Hb Pra dan Post Hemodialisa pada Penderita Gagal Ginjal Kronis di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta The Difference of Hb Levels Pre and Post Hemodialysis in Chronic Renal Failure Patients at PKU Muhammadiyah Hospital Yogyakarta. 7(1), 29-33. Utami, P. R., & Fuad, K. (2018). GAMBARAN KADAR HEMOGLOBIN PADA PENDERITA DIABETES. 5. xUAw. DAFTAR PUSTAKA Hasdianah, 2012. Mengenal Diabetes Mellitus Pada Orang Dewasa dan Anak-Anak dengan Solusi Herbal. Yogyakarta Nuha Medika Riskesdas 2013. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian RI Tahun 2013 Price, dan Wilson. 2012. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6 Vol 2. Jakarta EGC Mahara, 2016. Hubungan Kadar Kreatinin Serum Dengan Kadar Gula Darah Puasa Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di Rsud Dr. Sayidiman Kabupaten diakses tanggal 22 November 2016. Pratama, 2013. Korelasi Lama Diabetes Melitus Terhadap Kejadian Nefropati Diabetika Studi Kasus di Rumah Sakit Dokter Kariadi Semarang. Jurnal Media Medika Muda 11-7 Guyton, dan Hall. 2012. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta EGC Smeltzer, 2014. Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth Edisi 12. Jakarta EGC Alfonso, A A., Mongan, dan Memah. 2016. Gambaran Kadar Kreatinin Serum Pada Pasien Penyakit Ginjal KronikStadium 5 Non Dialisis. Jurnal e-Biomedik 41 178-183 Rehman G., Khan, dan Hamayun M. 2008. Studies on diabetic nephropathy and secondary diseases in type 2 diabetes. Int. J. Diab. Dev. Ctries 25 25-29. Notoatmodjo, S. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan, Edisi Revisi Cetakan Kedua. Jakarta Rineka Cipta. Ramadhan, N., dan N. Marissa. 2015. Karakteristik Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 Berdasarkan Kadar Hba1c Di Puskesmas Jayabaru Kota Banda Aceh. SEL 22 49-56. Launteria, M. 2009. Faktor yang Berhubungan denganPengendalian Gula Darah padaPenderita Diabetes Mellitusdi Perkotaan Indonesia. Maj Kedokt Indon 599 418-423. Betteng, R., D. Pangemanan, dan N. Mayulu. 2014. Analisis Faktor Resiko Penyebab Terjadinya Diabetes Melitus Tipe 2 Pada Wanita Usia Produktif Dipuskesmas Wawonasa. Jurnal e-Biomedik eBM 22 404-412. Amira, N., K. Pandelaki, S. Palar. 2013. Hubungan Tekanan Darah Dan Lama Menderita Diabetes Dengan Laju Filtrasi Glomerulus Pada Subjek Diabetes Melitus Tipe 2 [skripsi]. Manado Fakultas Kedokteran, Universitas Sam Ratulangi. Pabateh, E., S. Efendi, dan A. Ayumar. 2015. Perbedaan Kadar Kreatinin Serum Dengan Kadar Gula Darah Yang Terkontrol Dan Tidak Terkontrol Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II Di Rumah Sakit Tk II Pelamonia Makassar [skripsi]. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan STIK Makasar. American Diabetes Association 2010. Position statement Standards of Medical Care in Diabetes 2010. Diab Care 33 Rehman G., Khan, dan Hamayun M. 2008. Studies on diabetic nephropathy and secondary diseases in type 2 diabetes. Int. J. Diab. Dev. Ctries 25 25-29. Prayuda, R. 2016. Hubungan Kadar Kreatinin Serum Dengan Mikroalbuminuria Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe-2 Di Rumah Sakit Umum Daerah H. Abdul Moeloek Bandar Lampung. diakses tanggal 22 November 2016 Suryawan, 2016. Gambaran Ureum dan Kreatinin Serum Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Sebelum Menjalani Jadwal Hemodialisa di RSUD Sanjiwani Gianyar. Meditory 42 145-153. Dabla, 2010. Renal Function in Diabetic Nephropathy. World Journal of Diabetes 12 48-56. Sahid, QAU. 2012. Hubungan Lama Diabetes Melitus Dengan Terjadinya Gagal Ginjal Terminal Di Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta [skripsi]. Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta. Saranya, M. dan Nithiya T. 2015. Evaluation of Relationship Between Renal Abnormalities and Dyslipidemia on Type 2 Diabetes mellitus. WJPPS. 4823-33 Setiap orang memiliki tingkat normal kreatinin yang berbeda-beda, tergantung berat badan, massa otot, usia, dan jenis kelamin. Umumnya tingkat normal kreatinin pada pria sekitar 0,6 sampai 1,2 mg/dl. Sementara tingkat normal kreatinin pada wanita sekitar 0,5 sampai 1,1 mg/dl. Untuk mengetahui tingkat kreatinin di dalam tubuh, dokter akan merekomendasikan uji kreatinin lewat tes darah tes kreatinin serum untuk mengukur kadar kreatinin dalam darah dan tes urin untuk mengukur jumlah kreatinin dalam urin. Uji kreatinin umum digunakan untuk mendiagnosis penurunan fungsi ginjal. Jumlah kreatinin yang dihasilkan tubuh per harinya seharusnya cenderung stabil jika fungsi penyaringan ginjal berjalan baik. Namun, kadar kreatinin umum mengalami sedikit perubahan dalam satu hari; terendah pada pukul 7 pagi dan tertinggi pada pukul 7 malam. Lalu, apa artinya jika hasil uji kreatinin rendah? Hasil uji kreatinin rendah dapat menandakan sejumlah kondisi. Beberapa termasuk perubahan tubuh yang wajar dan alami, sementara yang lain mungkin membutuhkan perhatian medis lanjutan. Beberapa kemungkinan kondisi yang bisa menyebabkan kadar kreatinin rendah dalam tubuh adalah 1. Penyusutan massa otot distrofi otot Penyusutan massa otot umumnya merupakan perubahan tubuh alami seiring bertambahnya usia. Namun, masalah ini juga bisa disebabkan oleh adanya gangguan yang disebut distrofi otot. Distrofi otot adalah mutasi genetik yang mengakibatkan hilangnya massa otot secara progresif sehingga membuat otot makin lama semakin lemah. Seseorang pengidap distrofi otot bisa tidak memiliki otot sama sekali pada stadium akhir penyakit ini. Selain kadar kreatin yang rendah, pengidap distrofi otot juga akan merasakan gejala seperti kelemahan, nyeri, dan kekakuan pada ototnya yang membuat sulit untuk bergerak bebas. 2. Penyakit hati Kreatinin diproduksi di dalam hati. Ketika fungsi hati Anda terganggu, misalnya akibat penyakit hati kronis, produksi kreatinin bisa menurun sampai 50 persen. Gejala utama yang ditimbulkan dari kerusakan hati adalah perut sakit dan membengkak, penyakit kuning putih mata, kuku, dan kulit menguning, serta feses berwarna pucat dan berdarah. 3. Hamil Selain karena penyakit, jika Anda perempuan usia subur hasil uji kreatinin yang rendah bisa menandakan bahwa jika Anda sedang hamil. Kadar kreatinin akan menurun secara alami, dan akan kembali normal setelah melahirkan. 4. Sedang menjalani diet Kadar kreatinin rendah dalam tubuh juga bisa berarti Anda seorang vegetarian, atau sedang menjalani pola diet tinggi serat yang kaya buah dan sayuran. Vegetarian cenderung memiliki kadar kreatinin yang lebih rendah dibanding orang yang makan daging. Pasalnya, kreatinin akan cenderung tinggi setelah mengonsumsi sumber protein hewani dalam porsi besar. Jika hasil uji kreatinin Anda rendah, dokter akan menyarankan Anda melakukan tes lanjutan, seperti biopsi otot atau tes enzim otot untuk memeriksa kemungkinan kerusakan otot serta tes fungsi hati. 2. Dehidrasi berat Jika Anda mengalami dehidrasi berat dalam jangka waktu tertentu umumnya 3 bulan akan membuat glomerulus penyaring darah tidak berfungsi dengan baik. Padahal, seharusnya glomerulus ginjal berperan dalam proses penyaringan zat-zat sisa di dalam tubuh. Ini termasuk zat gizi yang berlebih. 3. Penyakit kronis Tidak hanya itu, beberapa penyakit seperti diabetes, asam urat, distrofi otot, hingga penyakit autoimun, bisa memengaruhi kerja ginjal dan glomerulus. Hal tersebut akan meningkatkan kadar kreatinin dalam tubuh. Tekanan darah tinggi juga dapat merusak pembuluh darah di sekitar ginjal, karena memaksa ginjal bekerja lebih keras menyaring darah. Akhirnya, ginjal kesulitan menyaring kreatinin sehingga berisiko menimbulkan masalah kesehatan akibat kreatinin tinggi. 4. Meminum suplemen protein Mengonsumsi protein dalam jumlah besar, baik melalui makanan maupun suplemen gizi juga bisa menyebabkan kadar kreatinin tinggi. Obat-obatan tertentu juga menyebabkan peningkatan sementara kadar kreatinin serum atau merusak ginjal. Seseorang yang menjalani tes kreatinin harus memberi tahu dokter jika mereka sedang mengonsumsi obat apa pun, berpuasa, atau mengikuti diet kaya protein. Fakta kreatinin Olahraga intensitas tinggi juga dapat meningkatkan kreatinin. Tingkat kreatinin dapat bervariasi karena faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, ras, hidrasi, atau berat badan. Berbagai cara menurunkan kreatinin tinggi Mengingat pentingnya menjaga kadar kreatinin tetap normal, Anda perlu melakukan pengobatan sebagai cara menurunkan kreatinin yang tinggi. Selain perawatan medis, berbagai pengobatan alami sehari-hari juga bisa membantu mempercepat turunnya kreatinin. 1. Hindari konsumsi suplemen kreatin Kreatinin adalah senyawa alami tubuh yang dihasilkan oleh kreatin, yang berperan sebagai penyuplai energi bagi otot. Selain diproduksi langsung oleh tubuh, kreatin bisa terdapat dalam suplemen yang dijual bebas. Sama halnya seperti kreatin alami yang ada di otot, kreatin dari suplemen bisa menghasilkan kreatinin. Itu sebabnya Anda tidak dianjurkan untuk mengonsumsi suplemen kreatin bila memiliki kadar kreatinin tinggi. 2. Kurangi asupan protein Konsumsi sumber protein terlalu banyak sering dikaitkan dengan lonjakan kreatinin, misalnya daging merah maupun produksi susu. Pasalnya, daging merah mengandung jaringan otot hewan yang memang secara alami mengandung kreatin. Ketika dimasak, panas dari api akan mengubah kreatin dalam daging menjadi kreatinin sehingga akan meningkatkan jumlahnya dalam tubuh saat dimakan. 3. Makan banyak serat Selain membantu melancarkan sistem pencernaan, makan makanan berserat bermanfaat sebagai cara menurunkan kreatinin tinggi. Sebuah penelitian yang dimuat dalam European Journal of Clinical Nutrition 2015 menunjukkan bahwa sumber serat bisa membantu mempercepat proses pemulihan pasien penyakit ginjal kronis. Makanan tinggi serat ini bisa membantu menurunkan kreatinin tinggi dalam tubuh. Anda bisa memperbanyak asupan serat dari buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian, maupun gandung utuh. 4. Hindari olahraga berat Aktivitas fisik yang terlalu berat akan meningkatkan produksi kreatinin. Semakin banyak dan lama otot bekerja, semakin tinggi pula kreatinin yang ada dalam darah. Namun, bagi Anda yang memiliki kadar kreatinin tinggi, bukan berarti Anda tidak boleh berolahraga. Rutin melakukan olahraga tentu baik untuk kesehatan tubuh, tetapi coba pilih jenis olahraga yang sesuai dengan kemampuan tubuh Anda. Ada baiknya untuk sementara waktu menghindari melakukan olahraga ataupun kegiatan harian lainnya yang terlalu berat, setidaknya sampai kreatinin kembali ke kadar normalnya. 5. Perhatikan kebutuhan cairan Jangan sepelekan mengenai aturan jumlah cairan yang harus Anda minum setiap harinya, apalagi jika Anda mengalami dehidrasi berat. Asupan cairan yang cukup seperti air putih bermanfaat bagi ginjal. Konsultasikan lebih lanjut dengan dokter untuk menentukan seberapa banyak cairan yang harus Anda minum beserta waktu konsumsi terbaiknya. Perlu diketahui, kisaran normal kreatinin untuk orang dewasa dalam darah biasanya 0,84 – 1,21 miligram per desiliter mg/dl. Sementara, rentang kreatinin urine normal adalah 955 – miligram per 24 jam mg/hari untuk pria dan 601 – mg/hari untuk wanita. Tingkat kreatinin di atas nilai kisaran normal tadi dapat dianggap tinggi, tentunya berbahaya bagi kesehatan ginjal. Penting agar Anda tidak mencoba menafsirkan hasilnya sendiri. Dokter akan mengevaluasi hasil pemeriksaan dan merekomendasikan penanganan yang tepat. Uncontrolled Diabetes Mellitus will lead to long-term complications, namely decreased organ function, especially the kidneys, nerves, eyes, blood vessels and heart. Diabetic nephropathy is a complication that is often found in DM patients and attacks the kidneys. Serum creatinine examination is used to assess kidney function in patients with Type 2 Diabetes Mellitus. This purpose of research is to describe the description of serum creatinine levels in inpatients diagnosed with Type 2 Diabetes Mellitus at Dr. Kariadi Semarang. This study uses descriptive quantitative. The data comes from the medical records of inpatients diagnosed with Type 2 DM at Dr. RSUP. Kariadi Semarang who examined creatinine levels in the period January - April 2020 with the total sampling method. From this study, inpatients diagnosed with Type 2 DM at Dr. Kariadi Semarang were 79 respondents with male sex as many as 49 people 62% and women 30 people 38%. In 79 respondesnts, there are 2 respondents had low creatinine levels, 7 respondents had normal creatinine levels, while 70 respondents had high creatinine levels. 43 male patients were included in the category of high creatinine levels. Based on age, it was dominated by the late elderly 55 – 65 years as many as 32 people with the late elderly patients as many as 28 people having high creatinine levels. Conclusion In 79 respondesnts 100%, there are 72 respondents who have abnormal creatinine levels and 7 respondents have normal creatinine levels. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Jaringan Laboratorium Medis Laboratorium Medis E-ISSN 2685-8495Vol. 04 No. 01 Bulan Mei Tahun 2022Submit Artikel Diterima 2022-03-02 ; Disetujui 2022-03-14Kadar Kreatinin Serum pada Pasien Rawat Inap yang Didiagnosis DiabetesMelitus Tipe 2Serum Creatinine Levels in Inpatients Diagnosed with Type 2 Diabetes MellitusTYAS PERTIWI ARMANINGRUMTEGUH BUDIHARJOJurusan Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Pedurungan SemarangEmail tyaspertiwiarmaningrum Melitus yang tidak terkontrol akan mengakibatkan komplikasi jangka panjang, yaitupenurunan fungsi organ diantaranya terjadi pada organ ginjal, saraf, mata, pembuluh darahdan jantung. Nefropati Diabetika merupakan komplikasi yang sering dijumpai pada pasienDM dan menyerang organ ginjal. Pemeriksaan kreatinin serum digunakan menilai fungsiginjal pada penderita Diabetes Melitus Tipe 2. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahuigambaran kadar kreatinin serum pada pasien rawat inap yang didiagnosis Diabetes MelitusTipe 2 di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Penelitian ini menggunakan deskriptif berasal dari rekam medik pasien rawat inap yang didiagnosis DM Tipe 2 di RSUP Semarang yang melakukan pemeriksaan kadar kreatinin pada periode Januari - April2020 dengan teknik total sampling. Dari penelitian ini, pasien rawat inap yang didiagnosisDM Tipe 2 di RSUP Dr. Kariadi Semarang adalah 79 responden terdapat 49 responden 62 %dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan 30 orang 38%. Pada 79 responden terdapat 2responden 2,5% memiliki kadar kreatinin rendah, 7 responden 8,9% memiliki kadarkreatinin normal, sedangkan 70 responden 88,6% memiliki kadar kreatinin tinggi. Pasienlaki-laki sebanyak 43 orang 88,6% masuk dalam kategori kadar kreatinin usia, didominasi oleh lansia akhir 55–65 tahun sebanyak 32 orang 40,5%dengan pasien lansia akhir sebanyak 28 orang 87,5% memiliki kadar kreatinin dalam 79 responden 100%, terdapat 72 responden 91,1% yang memilikikadar kreatinin yang abnormal dan 7 responden 8,9% memiliki kadar kreatinin Kunci Diabetes Melitus Tipe 2 ; Nefropatik Diabetik ; Kreatinin SerumAbstractUncontrolled Diabetes Mellitus will lead to long-term complications, namely decreasedorgan function, especially the kidneys, nerves, eyes, blood vessels and heart. Diabeticnephropathy is a complication that is often found in DM patients and attacks the creatinine examination is used to assess kidney function in patients with Type 2Diabetes Mellitus. This purpose of research is to describe the description of serum creatininelevels in inpatients diagnosed with Type 2 Diabetes Mellitus at Dr. Kariadi Semarang. Thisstudy uses descriptive quantitative. The data comes from the medical records of inpatientsdiagnosed with Type 2 DM at Dr. RSUP. Kariadi Semarang who examined creatinine levelsin the period January - April 2020 with the total sampling method. From this study,inpatients diagnosed with Type 2 DM at Dr. Kariadi Semarang were 79 respondents withmale sex as many as 49 people 62% and women 30 people 38%. In 79 respondesnts, thereare 2 respondents had low creatinine levels, 7 respondents had normalcreatinine levels, while 70 respondents had high creatinine levels. 43 male patients were included in the category of high creatinine levels. Based on age, it wasdominated by the late elderly 55–65 years as many as 32 people with the lateelderly patients as many as 28 people having high creatinine levels. Conclusion In Jaringan Laboratorium Medis Laboratorium Medis E-ISSN 2685-8495Vol. 04 No. 01 Bulan Mei Tahun 2022Submit Artikel Diterima 2022-03-02 ; Disetujui 2022-03-1479 respondesnts 100%, there are 72 respondents who have abnormal creatininelevels and 7 respondents have normal creatinine Type 2 Diabetes Mellitus Type 2 ; Diabetic Nephropathy ; Serum Creatinine1. PendahuluanWalaupun penyakit tidak menular termasuk suatu penyakit yang tidak dapat menularkanantar individu dan bukan disebabkan oleh agen penularan vektor, virus, bakteri, namunmenurut World Health Organization 2018 menyebutkan bahwa 71% kematian di bumi yangdisebabkan oleh penyakit tidak menular. Terdapat berbagai macam penyakit tidak menularlebih banyak disebabkan oleh perilaku gaya hidup, salah satunya adalah Diabetes MelitusDM yang menjadi masalah kesehatan utama pada saat ini yang merupakan tantanganKEMENKES RI dalam mengatasi Penyakit Tidak Menular, karena meningkatnya prevalensiPenyakit Tidak Menular PTM sekaligus prevalensi penyakit Diabetes Melitus tiap RISKESDAS 2018, pada penduduk berusia diatas 15 tahun yang terkena DMprevalensinya meningkat dari 6,9% menjadi 10,9%. Menurut International DiabetesFederation IDF, pada negara Indonesia penderita DM diprediksi meningkat dari 10,3 jutamenjadi 16,7 juta pada tahun 2045 Perkeni, 2019.Diabetes Melitus adalah penyakit dengan gangguan dalam proses metabolisme tubuhyang dikenali dengan karakteristik kadar glukosa yang tinggi dalam darah hiperglikemiaWHO, 2019. Penegakkan diagnosa penyakit Diabetes Melitus salah satunya dapat diketahuidengan pada pemeriksaan hasil kadar glukosa sewaktu GDS yang >200 mg/dl danpemeriksaan kadar glukosa darah puasa GDPP yang >126 mg/dl PERKENI, 2015.Diabetes Melitus tipe 2 adalah penyakit dengan gangguan dalam proses metabolisme tubuhyang dikenali dengan peningkatan gula darah yang diakibatkan pada penurunan sekresiinsulin oleh sel beta pankreas dan/atau gangguan fungsi insulin resistensi insulin. PadaDiabetes Melitus tipe 2, pada dasarnya pankreas menghasilkan hormon insulin yang bertugasuntuk mengubah glukosa menjadi energi, namun terhadap penderita Diabetes Melitus Tipe 2memang masih menghasilkan insulin, namun sel-selnya tidak menggunakan insulin tersebutdengan sebagaimana mestinya, atau biasa disebut dengan istilah resistensi yang buruk antarsel juga berpengaruh, termasuk reseptor insulin yang tidakberfungsi secara maksimal merupakan patofisiologi Diabetes Melitus Tipe 2. Pada DiabetesMelitus tipe 2 bisa disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah genetik atau karenaketurunan dan kelebihan berat badan Hasil RISKESDAS 2018 menunjukkan penderitaDiabetes di Indonesia sudah mencapai angka kejadian 57%, sedangkan penderita DM tipe 2dunia mencapai 95%. Pada era globalisasi ini, gaya hidup yang tidak baik diantaranyakurangnya aktivitas fisik, asupan gizi tak seimbang, stress, dan kurang tidur menyumbangrisiko Diabetes Melitus Tipe 2. Sekitar 30% pasien DM tidak menyadari keberadaanpenyakitnya, dan pada saat terdiagnosis, sekitar 25% mengalami komplikasi. Denganpengelolaan dan pengendalian yang tepat dapat meminimalisir terjadinya komplikasiRamadhan et al., 2018.Hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa pasien DM tipe 2 mengalami gangguankadar profil lipid seperti kolesterol dan trigliserida Gunardi, 2020. Sejalan dengan itu,pasien dengan penyakit ginjal kronik terjadi peningkatan kadar ureum dan kreatinin lebihdari 100% Afriansya, Sofyanita, & Suwarsi, 2020. Pada pasien DM tipe 2 Kadar glukosayang tidak normal dapat juga terjadi penderita hipertensi dan kelainan profil lipid padaprolanis Imawati, 2020. Hasil riset yang lain tentang kadar ureum pada pasien ginjalsebelum dan sesudah hemodialisa menunjukkan terjadinya penurunan kadar ureum Sari,2020.Diabetes Melitus menjadi penyakit yang beresiko sangat berbahaya apabila tidak hendaksegera ditangani, hal ini dapat menimbulkan berbagai komplikasi, sehingga perlu dilakukanpemeriksaan glukosa darah sebagai monitor kesehatan bagi penderita diabetes DM, karenapenyakit DM yang tidak terkontrol dapat menimbulkan komplikasi yang menyeang organ Jaringan Laboratorium Medis Laboratorium Medis E-ISSN 2685-8495Vol. 04 No. 01 Bulan Mei Tahun 2022Submit Artikel Diterima 2022-03-02 ; Disetujui 2022-03-14ginjal yakni Nefropati Diabetik, hal ini dibuktikan yakni sebanyak 20-40% penyandang DMakan terkena nefropati diabetik PERKENI, 2015. Menurut Bethesda National Institutes OfHealth, pada tahun 2002 angka prevalensi 40% penyebab gagal ginjal terminal adalahNefropatik Diabetika. Sekarang terdapat 25% penderita gagal ginjal yang melakukan dialisiskarena penyakit komorbidnya yaitu penyakit DM terutama DM tipe 2 karena penyakitdengan tipe tersebut lebih sering dijumpai di lapangan Alfarisi et al., 2012.Penyataan diatas didukung oleh penelitian terbaru yang dilakukan oleh Aulia AchmadYP pada tahun 2013 tentang “Korelasi Lama Diabetes Melitus Terhadap Kejadian NefropatiDiabetik Studi Kasus Di Rumah Sakit Dokter Kariadi Semarang”. Pasien DM yang dirawatinap di RSUP Dr Kariadi Semarang selama periode 2008 - 2012. Di antara 310 pasienDiabetes Melitus, terdapat 134 pasien yang terkena Nefropati Diabetik. Menurut penelitianini, kejadian Nefropatik Diabetik pada pasien DM di RSUP Dr. Kariadi adalah 43,2% AAY,Pratama, 2013.Nefropati diabetik merupakan salah satu komplikasi vaskular jangka panjang daripenyakit Diabetes Melitus yang terjadi pada organ ginjal. Perjalanan penyakit DiabetesMelitus hingga menyebabkan Nefropatik Diabetik yang merupakan penyakit gagal ginjalkronik yang disebabkan penyakit metabolik diabetes melitus, secara sederhana digambarkanoleh hiperfiltrasi dan hipertrofi organ ginjal yang merupakan akibat langsung darihiperglikemia. Hal ini mengakibatkan penebalan membran basal glomerulus dan terjadiglomeruloskerosis, yang diakibatkan hipertensi intragromerular. Pada keadaanglomeruskerosis ini, akan menyebabkan LFG Laju Filtrasi Glomerulus pernyataan The National Kidney Disease Education Program, pemeriksaankreatinin serum, yang merupakan tes gold standar pada penyakit ginjal yang digunakanuntuk menunjukkan kapasitas filtrasi glomeruli, dan mengamati perjalanan penyakit ginjalVerdiansyah, 2016. Pemilihinan pemeriksaan kadar kreatinin karena konsentrasi kreatinindalam plasma dan ekskresinya di urin dalam 24 jam relatif konstan. Adapun hasil kadarkreatinin darah yang lebih tinggi dari rentan nilai normal menunjukkan gangguan fungsiginjal yang harus dikaji lebih lanjut Alfarisi et al, 2012.2. MetodeRancangan pada penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan menggunakan jenispenelitian adalah studi kasus. Penelitian ini menggunakan data rekam medis yang diperolehdari Instalasi Rekam Medis dan Instalasi Laboratorium Terpadu di RSUP Dr. KariadiSemarang. Populasi dan sampel pada penelitian ini adalah pasien rawat inap dengandiagnosis Diabetes Melitus Tipe 2 yang melakukan pemeriksaan kadar kreatinin di InstalasiLaboratorium Klinik RSUP Dr. Kariadi Semarang pada periode Januari-April 2020 denganmenggunakan teknik sampling yaitu total sampling didapatkan jumlah sampel sebanyak 79data pasien. Pengelompokkan data berdasarkan karakteristik subjek penelitian berupa usia,jenis kelamin, dan nilai hasil pemeriksaan kreatinin. Data hasil kadar kreatinin dan pasienDiabetes Melitus diolah secara statistik dengan program Hasil dan PembahasanHasilTabel 1 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin. Jaringan Laboratorium Medis Laboratorium Medis E-ISSN 2685-8495Vol. 04 No. 01 Bulan Mei Tahun 2022Submit Artikel Diterima 2022-03-02 ; Disetujui 2022-03-14Berdasarkan tabel 1 dapat diketahui bahwa dalam responden pada penelitian ini yangberjenis kelamin laki-laki, yaitu sebanyak 49 orang 62% sedangkan responden sebanyak 3038% berjenis kelamin perempuan. Dengan presentase pasien berjenis kelamin laki-lakisebesar 62 % menunjukkan bahwa sebagian besar pasien rawat inap yang didiagnosisDiabetes Melitus Tipe 2 dalam penelitian ini adalah 2 Distribusi Responden Berdasarkan tabel 2 diketahui bahwa pasien dalam penelitian ini yang masuk kategoriumur masa kanak-kanak yaitu sebanyak 1 orang dengan persentase sebesar 1,3%. Pasienyang masuk kategori umur remaja akhir, dewasa awal, dewasa akhir masing-masingsebanyak 2 orang dengan presentase sebesar 2,5%. Pasien rawat inap yang didiagnosisDiabetes Melitus Tipe 2 yang masuk kategori umur lansia awal dan manula masing-masingsebanyak 20 orang dengan presentase sebesar 25,3%. Sedangkan pasien yang masuk kategoriumur lansia akhir sebanyak 32 orang dengan presentase sebesar 40,5%. Maka dapatdisimpulkan mayoritas pasien rawat inap yang didiagnosis Diabetes Melitus Tipe 2 dalampenelitian ini masuk dalam kategori umur lansia akhir dengan presentase sebesar 40,5%.Pada RSUP Dr Kariadi Semarang rentang nilai normal bagi pasien berjenis kelaminperempuan dan laki-laki untuk pemeriksaan kreatinin adalah 0,6-1,3 mg/ 3 Distribusi Frekuensi Kategori Kadar Kreatinin tabel 3 diketahui dalam penelitian ini pasien yang masuk kategori kadarkreatinin rendah, yaitu sebanyak 2 orang 2,5%, pasien yang masuk kategori kadar kreatininnormal sebanyak 7 orang dengan presentase sebesar 8,9%, sedangkan pasien yang masukkategori kadar kreatinin tinggi sebanyak 70 orang dengan presentase sebesar 70%. Makadapat disimpulkan bahwa mayoritas pasien rawat inap yang didiagnosis Diabetes MelitusTipe 2 dalam penelitian ini masuk dalam kategori kadar kreatinin 4 Distribusi Frekuensi Kadar Kreatinin Responden berdasarkan Jenis Kelamin Jaringan Laboratorium Medis Laboratorium Medis E-ISSN 2685-8495Vol. 04 No. 01 Bulan Mei Tahun 2022Submit Artikel Diterima 2022-03-02 ; Disetujui 2022-03-14Berdasarkan tabel 4 bahwa mayoritas pasien laki laki sebanyak 43 orang 87,8% masukdalam kategori kadar kreatinin tinggi, sedangkan sisanya sebanyak 5 orang pasien laki-laki10,2% masuk kategori kreatinin normal, dan 1 orang pasien laki-laki 2% masuk dalamkategori kreatinin rendah. Untuk pasien perempuan sebanyak 27 orang 90% memliki kadarkreatinin tinggi, sedangkan sisanya sebanyak 2 orang pasien perempuan 6,7% masukkategori kreatinin normal, dan 1 orang pasien perempuan 3,3% masuk dalam kategorikreatinin 5 Distribusi Frekuensi Kadar Kreatinin Responden berdasarkan tabel 5 dapat diketahui bahwa semua pasien kategori umur masakanak-kanak sebanyak 1 orang 100% masuk dalam kategori kadar kreatinin normal,sedangkan semua pasien kategori umur remaja akhir sebanyak 2 orang 100% masuk dalamkategori kadar kreatinin rendah. Semua pasien kategori umur dewasa awal dan dewasa akhirmasing-masing sebanyak 2 orang 100% masuk dalam kategori kadar kreatinin responden kategori umur lansia awal sebanyak 19 orang 95% masuk dalamkategori kadar kreatinin tinggi, sisanya sebanyak 1 orang 5% responden kategori umurlansia awal masuk dalam kategori kreatinin normal. Mayoritas responden kategori umurlansia akhir sebanyak 28 orang 87,5% masuk dalam kategori kadar kreatinin tinggi, sisanyasebanyak 4 orang 12,5% responden kategori umur lansia akhir masuk dalam kategorikreatinin normal. Mayoritas responden kategori umur manula sebanyak 19 orang 95%masuk dalam kategori kadar kreatinin tinggi, sisanya sebanyak 1 orang 5% respondenkategori umur lansia akhir masuk dalam kategori kreatinin dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kadar kreatinin pada pasien rawatinap yang didiagnosis Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUP Dr Kariadi Semarang. Datapenelitian diperoleh dari data rekam medik pasien rawat inap, dengan teknik total samplingdiperoleh 79 sampel yang masuk. Selain itu terdapat kendala lain dalam pengambilan datasampel yaitu ada beberapa pasien penderita Diabetes Melitus Tipe 2 tidak melakukanpemeriksaan kimia klinik terutama pemeriksaan hasil penelitian pada bulan Januari–April tahun 2020 terdapat 79 respondenpasien rawat inap yang didiagnosis Diabetes Melitus Tipe 2 yang melakukan pemeriksaankreatinin melalui data sekunder dari RSUP Dr. Kariadi Semarang, berikut ini gambaran Jaringan Laboratorium Medis Laboratorium Medis E-ISSN 2685-8495Vol. 04 No. 01 Bulan Mei Tahun 2022Submit Artikel Diterima 2022-03-02 ; Disetujui 2022-03-14umum mengenai karakteristik responden penelitian pasien rawat inap yang didiagnosis DMTipe 2 di RSUP Dr. Kariadi Semarang berdasarkan jenis kelamin dan usia a. Hasil Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 berdasarkan Jenis KelaminMelalui tabel 1 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin, pada presentaseresponden pasien Diabetes Melitus Tipe 2 berjenis kelamin laki-laki sebesar 62 %menunjukkan bahwa sebagian besar responden yang melakukan pemeriksaan kreatinin dalampenelitian ini adalah laki-laki sebanyak 49 berdasarkan data Riskesdas 2018, menunjukkan bahwa penderita DM diIndonesia lebih banyak diderita oleh perempuan dengan prevalensi Diabetes Melitus denganjenis kelamin perempuan adalah 1,8% dibandingkan laki-laki 1,2%. Terdapat beberapa faktorresiko penyakit Diabetes Melitus yang dapat menyerang berbagai gender. Menurut AmericanDiabetes Association ADA 2019 bahwa terdapat 2 faktor resiko yang menyebabkanpenyakit Diabetes Melitus, yaitu 1 Faktor risiko yang tidak dapat diubah diantaranya adalah ,riwayat melahirkan bayi dengan berat badan lahir bayi >4000 gram, faktor genetik riwayatkeluarga dengan DM, umur ≥45 tahun, etnik, riwayat melahirkan bayi dengan berat badanlahir bayi >4000 gram atau pernah menderita Diabetes Melitus gestasional dan riwayat lahirdengan beratbadan rendah 4000 gram atau riwayat diabetes gestasional dan latar belakang yang ditandai denganberat badan lahir rendah 1,3 mg/dl mayoritas responden dalam penelitian ini masuk dalamkategori umur lansia akhir 55 – 65 tahun sebanyak 32 orang 40,5%. Mayoritas respondenkategori umur lansia akhir sebanyak 28 orang 87,5% memiliki kadar kreatinin yangabnormal yakni masuk dalam kategori kadar kreatinin bagi peneliti selanjutnya untuk mengembangkan faktor - faktor yang lebihbanyak lagi, karena terdapat banyak faktor yang dapat mempengaruhi meningkatnya kadarkreatinin dan faktor yang menyebabkan responden dapat terkena penyakit Diabetes MelitusTipe 2 termasuknya salah satunya pola hidup pasien Diabetes Melitus mematuhi pengobatan diabetes, mengontrol polahidup, melakukan aktivitas fisik untuk menghindari komplikasi Diabetes Melitus yakni salahsatunya komplikasi DM yang menyerang organ ginjal Nefropatik Diabetik.5. Daftar PustakaADA. 2019. 2. Classification and Diagnosis of Diabetes <em>Standards of MedicalCare in Diabetes—2019</em> Diabetes Care, 42Supplement 1, S13 S., Basuki, W., & Susantiningsih, T. 2012. Perbedaan Kadar Kreatinin SerumPasien Diabetes Melitus Tipe 2 Yang Terkontrol Dengan Yang Tidak Terkontrol DiRsud Dr . H . Abdul Moeloek Differences in Serum Creatinine Levels of Type 2Diabetes Mellitus Patient That Controlled With Not Controlled in Dr. 129– P., 2013. Korelasi lama diabetes melitus terhadap kejadian nefropati diabetik studikasus di Rumah Sakit Dokter Kariadi Semarang. J Media Medika R., Sofyanita, E. N., & Suwarsi. 2020. Gambaran ureum dan kreatinin padapasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Jurnal LaboratoriumMedis,21, 6–11. Retrieved from Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. 2019. Buku Pedoman PenyakitTidak Menular. Kementerian Kesehatan RI, 2020. Profil HbA1c , Kolesterol dan Trigliserida pada Pasien Diabetes MellitusTipe 2 Profile of HbA1c , Cholesterol and Triglyceride in Type 2 Diabetes Laboratorium Medis,0202, 89– H. 2020. Gambaran Kadar Glukosa , Tekanan Darah , dan Profil Lipid padaPasien Prolanis DM Hipertensi. Jaringan Laboratorium Medis,0202, 61– J. S., Ratag, B. T., & Wuwungan, G. 2013. Analisis hubungan antara umur danriwayat keluarga menderita DM dengan kejadian penyakit DM tipe 2 pada pasienrawat jalan di Poliklinik Penyakit Dalam BLU RSUP PROF. Dr. RD KandouManado. J Kesmas Univ Sam Ratulangi Manad, 21, 1-6. Diakses melalui N., & Nugroho, P. S. 2020. Hubungan Stres Dan Merokok Dengan Kejadian Jaringan Laboratorium Medis Laboratorium Medis E-ISSN 2685-8495Vol. 04 No. 01 Bulan Mei Tahun 2022Submit Artikel Diterima 2022-03-02 ; Disetujui 2022-03-14Diabetes Melitus di Wilayah Kerja Puskesmas Palaran Kota Samarinda Tahun Student Research BSR, 12, 1243-1248. Diakses melalui 2021. “Gambaran Kadar Kreatinin Serum Pada Penderita Diabetes MelitusTipe Ii Di Rumah Sakit Bhayangkara Kota Palembang Tahun 2019,” RepositoryPoltekkes Kemenkes Palembang, accessed June 2, 2021, D., Apriani, E., & Rahayu, Y. 2018. Hubungan Karakteristik Pasien DenganKemampuan Self-Care Pada Pasien Dm Tipe 2 Di Puskesmas Cilacap Tengah 1 Dan2. Jurnal Kesehatan Al-Irsyad, 111, 40-49. Retrieved from 2015. Diakses melalui N., Marissa, N., Fitria, E., & Wilya, V. 2018. Pengendalian Diabetes MelitusTipe 2 pada Pasien di Puskesmas Jayabaru Kota Banda Aceh. Media Penelitian DanPengembangan Kesehatan, 284, 239–246. 2018. Hasil utama Riset Kesehatan Dasar. Badan Penelitian dan PengembanganKesehatan Kementerian RI tahun 2018. Diakses 30 November 2020. Diaksesmelalui 2018. The Relationship Between Dietary Knowledge and Glycemic Control inPatient with Diabetes Type 2 A Comunity-Based, Cross-Sectional Study. AdvancedScience Letters 2312 12532– K. F. 2017. Hubungan merokok dengan kejadian toleransi glukosa terganggu diIndonesia Tahun 2013 Bachelor's thesis, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta FakultasKedokteran dan Ilmu Kesehatan, 2017. Diakses melalui L. P. 2020. Kadar Ureum Sebelum dan Sesudah Hemodialisa pada Pasien GagalGinjal. Jaringan Laboratorium Medis,0202, 104–108Tim Penyusun Perkeni Soebagijo Adi Soelistijo, dkk. 2019. Pedoman Pengelolaaan danPencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 Dewasa di Indonesia. 2019. PB melalui 2016. Pemeriksaan Fungsi Ginjal. CDK-237/ vol. 43 no. 2, th. 2016WHO. 2019. Classification Of Diabetes Mellitus. Diakses melalui V V TalantovThe USSR adopted the classification of diabetes mellitus by V. G. Baranov, improved by him in 1980 [16] and somewhat modified in 1984 [21, according to which the following are distinguished 1 spontaneous essential diabetes mellitus; 2 diabetes mellitus caused by primary diseases leading to widespread destruction of P-cells; 3 diabetes mellitus caused by diseases occurring with intense secretion of hormones, insulin GunardiDiabetes mellitus type 2 DM Type-2 is a metabolic disease which characterized by hyperglycemia due to failure of insulin secretion, insulin action or both. If DM is not handled properly, then it will arise complications in various organs of the body. The criterias of DM control including HbA1c levels and lipid fractions. Lipid pattern in patients with DM type 2 is very dependent on HbA1c control. High HbA1c is associated with high triglycerides and cholesterol. Research objective to find out the description of Hba1c, cholesterol and triglyceride levels in patients of DM type 2 at the Outpatient Poly of RSUD Tidar Magelang. Research method the research type was descriptive with observational design. Primary data were obtained from levels measurements of HbA1c, cholesterol and triglycerides.. The normal HbA1c levels 4-5,80%, good control 6,1-6,5%, moderate 6,6-7,8%, bad 8,8-14,1% respectively as much as 65,96%, 12,77%, 10,64%, and 10,90%. The normal cholesterol levels 100-160 mg/dL, moderate 200-220 mg/dL, and high 250-300 mg/dL, respectively 74,47%, 10,64%, and 14,89%. The normal triglyceride levels 70-140 mg/dL, high limit 150-165 mg/dL, and high 200-252 mg/dL respectively as much as 63,83%, 19,15% and 17,02%. Based on the age of normal HbA1c levels as much as 65,96%, normal cholesterol 74,47%, and triglycerides 63,83%. The levels of HbA1c, cholesterol, and triglycerides were mostly normal in age groups of elderly, and male. The high levels of HbA1c, cholesterol, and triglycerides were more common in elderly than in other age groups. Nur RamadhanNelly MarissaEka FitriaVeny WilyaDiabetes Mellitus DM is a metabolic disease that affects many people of the world, including Indonesia. To prevent complications, a good control of DM is needed by patients, one of them is controlling blood sugar and keeping blood pressure stable. DM is reported in Banda Aceh as one of diseases with the highest number of visits every year. The purpose of this study was to determine the achievements of DM control by patients with type 2 diabetes mellitus in Puskesmas Jayabaru Banda Aceh. The study used a cross sectional design and a sample of 85 patients with type 2 diabetes mellitus in Puskesmas Jayabaru in 2015. The results showed HbA1c value ≥ 7%, 80% fasting plasma glucose FPG ≥ 100 mg/dl, of the value post prandial plasma glucose ≥ 140 mg/dl and blood pressure ≥ 130 mmHg. Of the 85 patients only 7 showed good DM control results. This illustrates that DM control achievement is still below the cut-off value set by PERKENI. Counseling to patients and families is needed to improve the management of type 2 DM by patients. Abstrak Abstrak Diabetes Melitus DM merupakan penyakit metabolik yang banyak diderita penduduk dunia, termasuk Indonesia. Untuk mencegah terjadi komplikasi diperlukan pengendalian DM yang baik oleh penderita, salah satunya dengan mengontrol gula darah dan menjaga tekanan darah tetap stabil. Penyakit DM dilaporkan di Kota Banda Aceh sebagai salah satu penyakit dengan angka kunjungan terbanyak setiap tahun. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui capaian pengendalian DM oleh penderita DM tipe 2 di wilayah kerja Puskesmas Jayabaru Kota Banda Aceh. Penelitian menggunakan desain potong lintang dan sampel berjumlah 85 orang penderita DM tipe 2 di Puskesmas Jayabaru tahun 2015. Hasil penelitian menunjukkan 81,2% nilai HbA1c ≥ 7%, 80% nilai GDP ≥ 100 mg/dl, 85,9% nilai GD 2 jam PP ≥ 140 mg/dl, 58,8% dan tekanan darah ≥ 130. Dari 85 pasien hanya tujuh orang yang menunjukkan hasil pengendalian DM yang baik. Hal ini menggambarkan bahwa capaian pengendalian DM masih di bawah nilai cut off yang ditetapkan Perkumpulan Endokrinologi Indonesia PERKENI. Penyuluhan kepada pasien dan keluarga sangat dibutuhkan untuk memperbaiki pengelolaan DM tipe 2 oleh and Diagnosis of Diabetes <em>Standards of Medical Care in Diabetes-2019</em>ADA. 2019. 2. Classification and Diagnosis of Diabetes <em>Standards of Medical Care in Diabetes-2019</em> Diabetes Care, 42Supplement 1, S13 LP-S28. Kadar Kreatinin Serum Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Yang Terkontrol Dengan Yang Tidak Terkontrol Di Rsud Dr . H . Abdul Moeloek Differences in Serum Creatinine Levels of Type 2 Diabetes Mellitus Patient That Controlled With Not Controlled in DrS AlfarisiW BasukiT SusantiningsihAlfarisi, S., Basuki, W., & Susantiningsih, T. 2012. Perbedaan Kadar Kreatinin Serum Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Yang Terkontrol Dengan Yang Tidak Terkontrol Di Rsud Dr. H. Abdul Moeloek Differences in Serum Creatinine Levels of Type 2 Diabetes Mellitus Patient That Controlled With Not Controlled in Dr. lama diabetes melitus terhadap kejadian nefropati diabetik studi kasus di Rumah Sakit Dokter Kariadi SemarangP AayAAY, P., 2013. Korelasi lama diabetes melitus terhadap kejadian nefropati diabetik studi kasus di Rumah Sakit Dokter Kariadi Semarang. J Media Medika ureum dan kreatinin pada pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisisR AfriansyaE N SofyanitaSuwarsiAfriansya, R., Sofyanita, E. N., & Suwarsi. 2020. Gambaran ureum dan kreatinin pada pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Jurnal Laboratorium Medis, 21, 6-11. Retrieved from Pedoman Penyakit Tidak MenularDirektorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. 2019. Buku Pedoman Penyakit Tidak Menular. Kementerian Kesehatan RI, 101. Kadar Glukosa , Tekanan Darah , dan Profil Lipid pada Pasien Prolanis DM HipertensiH ImawatiImawati, H. 2020. Gambaran Kadar Glukosa, Tekanan Darah, dan Profil Lipid pada Pasien Prolanis DM Hipertensi. Jaringan Laboratorium Medis, 0202, 61-67.

kadar kreatinin pada penderita diabetes